Menghormati Padi dengan Nutuk Beham, Perayaan Panen Tradisional Kutai Lawas
Menghormati Padi dengan Nutuk Beham, Perayaan Panen Tradisional Kutai Lawas

Menghormati Padi dengan Nutuk Beham, Perayaan Panen Tradisional Kutai Lawas

Frankenstein45.Com – 26 April 2026 | Nutuk Beham adalah tradisi turun‑turunan yang dilaksanakan oleh masyarakat Kutai Lawas, Kalimantan Timur, untuk mengekspresikan rasa syukur atas hasil panen padi. Acara ini biasanya diselenggarakan sesaat setelah proses pemanenan selesai, menandai transisi dari kerja keras di sawah menuju perayaan bersama.

Ritual dimulai dengan persiapan bahan‑bahan utama, yaitu beras yang baru dipanen, batu penggiling tradisional, dan area khusus yang disebut \”bubuk\”. Seluruh warga, mulai dari petani hingga tokoh adat, berkumpul untuk menyaksikan proses menumbuk beras secara serentak.

  • Persiapan: Beras dicuci bersih, batu penggiling dibersihkan, dan tempat menumbuk dibersihkan secara menyeluruh.
  • Pemukulan (Nutuk): Batu penggiling diputar secara manual oleh sekelompok relawan, menghasilkan bunyi ritmis yang dianggap melambangkan doa kepada dewa‑dewa padi.
  • Doa dan nyanyian: Selama proses menumbuk, para tetua mengucapkan doa, sementara anak‑anak muda menyanyikan lagu‑lagu tradisional yang berkaitan dengan pertanian.
  • Distribusi: Setelah beras tertumbuk, sebagian dibagi kepada keluarga yang membutuhkan, sedangkan sisanya dijadikan simbol persembahan kepada leluhur dan dewa padi.

Selain meneguhkan rasa kebersamaan, Nutuk Beham juga berfungsi sebagai sarana edukasi bagi generasi muda mengenai pentingnya pertanian berkelanjutan dan pelestarian nilai‑nilai budaya lokal. Pemerintah daerah setempat mendukung acara ini dengan menyediakan sarana kebersihan dan mengundang peneliti budaya untuk mendokumentasikan prosesnya.

Dengan melestarikan Nutuk Beham, masyarakat Kutai Lawas tidak hanya merayakan hasil panen, tetapi juga menegaskan hubungan spiritual mereka dengan tanah dan padi, yang selama berabad‑abad menjadi sumber kehidupan.