Misteri Kematian Pelajar 17 Tahun di Gorong-Gorong Lampung Tengah Menggemparkan Warga
Misteri Kematian Pelajar 17 Tahun di Gorong-Gorong Lampung Tengah Menggemparkan Warga

Misteri Kematian Pelajar 17 Tahun di Gorong-Gorong Lampung Tengah Menggemparkan Warga

Frankenstein45.Com – 21 April 2026 | Warga Kampung Sinar Banten, Kecamatan Bekri, Kabupaten Lampung Tengah, dikejutkan pada Minggu malam 19 April 2026 dengan penemuan jasad seorang pelajar laki‑laki berusia 17 tahun di aliran rawa perkebunan sawit. Penemuan tersebut terjadi sekitar pukul 22.30 WIB, tepatnya di bawah gorong‑gorong Jalan Bekri‑Wates, kawasan simpang Sumberejo. Korban, yang diidentifikasi sebagai Rafli Liyan Saputra, warga Tulung Melati II, Kampung Kesumajaya, ditemukan dalam kondisi telungkup, mengenakan sweter lengan panjang hitam bergaris putih dan celana jeans biru dongker.

Kronologi Kejadian

  • Sabtu malam (18/4/2026): Rafli tidak kembali ke rumah setelah mengikuti kegiatan di luar rumah. Keluarga dan teman‑temannya mulai khawatir karena ia tidak menghubungi siapapun.
  • Malam Sabtu hingga dini hari Minggu: Teman‑teman Rafli melakukan pencarian mandiri di sekitar wilayah kampung, namun tidak menemukan jejak.
  • Pukul 22.30 WIB, Minggu 19/4/2026: Seorang warga yang sedang lewat di dekat gorong‑gorong melaporkan penemuan jasad. Polisi segera melakukan olah TKP.
  • Pukul 23.00 WIB: Kepala Kampung Kesumajaya, Sugiono, menerima laporan resmi tentang penemuan mayat dan mengonfirmasi kepada media setempat.

Setelah menerima laporan, tim Polsek Gunung Sugih bersama Tim Inafis Polres Lampung Tengah langsung menuju lokasi. Petugas menemukan tubuh Rafli tergeletak di dalam air rawa, masih dalam posisi telungkup. Proses evakuasi dilakukan dengan hati‑hati untuk menghindari kontaminasi bukti.

Reaksi Masyarakat dan Keluarga

Keluarga korban, yang tinggal bersama kakek di kampung tersebut, menyatakan keprihatinan mendalam. Kedua orang tua Rafli bekerja di Tangerang, sehingga mereka tidak berada di Lampung pada saat kejadian. Kepala Kampung Kesumajaya menambahkan, “Warga kampung sangat terkejut. Kami berharap pihak berwenang dapat mengungkap penyebab kematian yang misterius ini.”

Warga sekitar menilai lokasi gorong‑gorong sebagai tempat yang seharusnya aman, terutama karena pada malam hari biasanya tidak ada aktivitas. Beberapa saksi mengaku tidak mendengar suara teriakan atau keributan sebelum penemuan.

Penyelidikan Polisi

Kapolres Lampung Tengah, AKBP Charles Pandapotan Tampubolon, menegaskan bahwa penyelidikan masih dalam tahap awal. “Penemuan berawal dari kecurigaan teman‑teman korban yang mencarinya karena sejak Sabtu malam hingga Minggu sore tidak pulang ke rumah,” ujarnya pada Selasa 21 April 2026. Tim forensik kini sedang mengautopsi jasad untuk menentukan penyebab kematian, baik karena faktor alam, kecelakaan, atau kemungkinan tindakan kriminal.

Polisi juga melakukan pemeriksaan terhadap CCTV di sekitar kawasan perkebunan sawit serta menginterogasi saksi yang berada di sekitar lokasi pada malam kejadian. Hingga kini belum ada petunjuk pasti yang mengarah pada pelaku atau motif.

Langkah Selanjutnya

Otoritas setempat berjanji akan meningkatkan pengawasan di area-area rawan seperti gorong‑gorong dan jalur air pada malam hari. Selain itu, pihak sekolah dan organisasi pemuda diminta untuk memberikan edukasi kepada siswa mengenai pentingnya tidak berkeliaran sendirian di wilayah yang minim penerangan.

Kasus ini menambah daftar kejadian tragis yang menimpa pelajar Indonesia dalam beberapa bulan terakhir, mengingat juga kasus serupa yang terjadi di daerah lain. Masyarakat berharap penyelidikan dapat memberikan kejelasan dan keadilan bagi keluarga korban.

Dengan berjalannya penyelidikan, pihak kepolisian mengimbau siapa saja yang memiliki informasi terkait kejadian untuk segera melapor demi membantu proses hukum.