Frankenstein45.Com – 21 Mei 2026 | Selama bertahun‑tahun, profesi medis di Indonesia masih sering diasosiasikan dengan istilah “darah biru”, yang menimbulkan anggapan bahwa dokter kebanyakan berasal dari keluarga yang sudah berkiprah di dunia kedokteran. Namun data terbaru dari Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (UNUSA) membantah mitos tersebut.
| Kategori Keluarga | Persentase |
|---|---|
| Non‑dokter | 84 % |
| Dokter | 16 % |
Data ini menunjukkan bahwa akses masuk ke dunia medis semakin terbuka dan inklusif, tidak lagi eksklusif bagi kalangan tertentu. Beberapa faktor yang menjadi pendorong perubahan ini antara lain:
- Peningkatan beasiswa dan program beasiswa khusus bagi mahasiswa berprestasi tanpa memandang latar belakang keluarga.
- Penguatan kurikulum yang menekankan meritokrasi, sehingga nilai akademik menjadi penentu utama.
- Kampanye publik yang menyoroti pentingnya diversitas dalam tenaga kesehatan untuk mencerminkan masyarakat.
Para alumni UNUSA yang termasuk dalam 84 % tersebut menyatakan bahwa motivasi utama mereka adalah keinginan membantu sesama, ketertarikan pada ilmu kedokteran, serta dukungan dari lingkungan kampus yang memfasilitasi proses belajar yang kompetitif namun kolaboratif.
Dengan semakin banyaknya dokter yang berasal dari keluarga non‑dokter, harapan akan terciptanya tenaga medis yang lebih representatif terhadap keragaman sosial, budaya, dan ekonomi di Indonesia pun semakin kuat. Hal ini diharapkan dapat meningkatkan kepercayaan publik terhadap layanan kesehatan serta memperluas jangkauan layanan di daerah‑daerah yang selama ini kurang terlayani.




