Frankenstein45.Com – 04 Juni 2026 | Jakarta, 4 Juni 2026 – Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Nanik S. Deyang, menyampaikan langkah-langkah strategis dalam rangka memperbaiki Program Makanan Bergizi (MBG) pada konferensi pers yang diadakan di Kantor Pusat BGN, Jakarta, Kamis (4/6/2026). Sebagai pemimpin baru BGN, Nanik menegaskan komitmen lembaga untuk meningkatkan kualitas gizi masyarakat, khususnya anak-anak balita dan ibu hamil.
Dalam sambutannya, Nanik menyoroti beberapa tantangan utama yang dihadapi program MBG selama beberapa tahun terakhir, antara lain:
- Keterbatasan distribusi pangan bergizi ke daerah terpencil.
- Kurangnya sosialisasi manfaat makanan bergizi kepada masyarakat.
- Data monitoring gizi yang belum terintegrasi secara nasional.
Untuk mengatasi kendala tersebut, BGN merencanakan serangkaian aksi perbaikan yang meliputi:
- Revitalisasi jaringan distribusi: Bekerja sama dengan dinas kesehatan daerah serta lembaga non‑pemerintah untuk memastikan pangan bergizi tersedia di puskesmas dan posyandu di seluruh Indonesia.
- Peningkatan kampanye edukasi: Meluncurkan materi edukatif berbasis multimedia yang mudah dipahami, termasuk video pendek, poster, dan modul pelatihan bagi tenaga kesehatan.
- Integrasi data gizi: Mengembangkan platform digital terpadu yang mengumpulkan data pemantauan gizi secara real time, sehingga kebijakan dapat disesuaikan dengan cepat.
- Penguatan kemitraan sektor swasta: Mengajak produsen makanan lokal untuk berpartisipasi dalam program fortifikasi pangan serta penyediaan paket makanan bergizi dengan harga terjangkau.
- Evaluasi dan pelaporan berkala: Menetapkan indikator kinerja utama (KPI) yang jelas dan melakukan audit tahunan untuk menilai efektivitas program.
Nanik menegaskan bahwa perbaikan ini tidak hanya bersifat administratif, melainkan akan melibatkan seluruh pemangku kepentingan, termasuk masyarakat luas. “Kami mengajak setiap elemen, mulai dari pemerintah daerah, lembaga swadaya masyarakat, hingga keluarga, untuk bersama‑sama menciptakan lingkungan yang mendukung gizi seimbang,” ujar Nanik.
Selain itu, BGN akan menambah anggaran program MBG sebesar 15% untuk tahun anggaran berikutnya, dengan fokus pada pengadaan bahan pangan berkualitas tinggi dan peningkatan kapasitas tenaga gizi di lapangan.
Para ahli gizi menyambut positif langkah-langkah tersebut, namun mengingatkan perlunya implementasi yang konsisten dan pengawasan yang ketat. “Kebijakan yang baik harus diikuti dengan pelaksanaan yang transparan dan akuntabel,” kata Dr. Rina Wulandari, dosen Fakultas Kedokteran Gizi Universitas Indonesia.
Dengan kepemimpinan baru dan rencana aksi yang terstruktur, diharapkan program MBG dapat kembali memberikan dampak signifikan dalam menurunkan angka stunting, anemia, dan masalah gizi lainnya di Indonesia.




