Perusahaan Minyak AS Paling Diuntungkan atas Krisis Selat Hormuz, Energy Security Tiongkok Paling Kuat
Perusahaan Minyak AS Paling Diuntungkan atas Krisis Selat Hormuz, Energy Security Tiongkok Paling Kuat

Perusahaan Minyak AS Paling Diuntungkan atas Krisis Selat Hormuz, Energy Security Tiongkok Paling Kuat

Frankenstein45.Com – 12 Juni 2026 | Krisis yang melanda Selat Hormuz baru-baru ini memicu gejolak harga minyak dunia. Di tengah ketegangan tersebut, perusahaan-perusahaan minyak asal Amerika Serikat justru memperoleh keuntungan signifikan berkat apa yang disebut sebagai “keunggulan nonkompetitif”.

Keunggulan ini muncul karena gangguan pasokan dari wilayah Teluk Persia meningkatkan permintaan minyak dari sumber alternatif, terutama produksi di daratan Amerika. Harga spot Brent yang sebelumnya stabil naik tajam, memungkinkan perusahaan-perusahaan besar di AS untuk meningkatkan margin keuntungan mereka.

Berikut adalah beberapa perusahaan minyak Amerika yang paling diuntungkan:

  • ExxonMobil
  • Chevron
  • ConocoPhillips
  • Marathon Petroleum
  • Phillips 66

Selain meningkatkan laba, perusahaan-perusahaan tersebut juga memperluas kapasitas ekspor melalui pelabuhan di Gulf Coast, memanfaatkan kondisi pasar yang menguntungkan.

Sementara itu, di sisi lain dunia, Tiongkok memperkuat keamanan energi (energy security)nya. Pemerintah Beijing menambah cadangan strategis minyak, mempercepat diversifikasi pemasok, dan meningkatkan investasi pada energi terbarukan serta infrastruktur penyimpanan.

Langkah-langkah utama Tiongkok meliputi:

  1. Peningkatan cadangan minyak strategis hingga 30% dari konsumsi tahunan.
  2. Negosiasi kontrak jangka panjang dengan produsen di Rusia, Arab Saudi, dan Amerika Serikat.
  3. Pengembangan kilang dan terminal penyimpanan di wilayah pesisir selatan.
  4. Investasi besar-besaran dalam energi bersih, khususnya tenaga surya dan hidrogen hijau.

Kombinasi kebijakan ini menempatkan Tiongkok pada posisi paling kuat dalam hal keamanan energi global, meski masih bergantung pada impor minyak mentah.

Secara keseluruhan, krisis Selat Hormuz memperlihatkan dinamika pasar energi yang cepat berubah. Sementara perusahaan minyak AS memanfaatkan lonjakan harga untuk meningkatkan profitabilitas, Tiongkok berupaya memperkuat ketahanan energi jangka panjangnya melalui strategi diversifikasi dan penambahan cadangan strategis.