Frankenstein45.Com – 16 Juni 2026 | Setiap tahun, warga sebuah kampung di Kabupaten Lumajang, Jawa Timur, menyambut hari pertama tahun baru Islam, 1 Muharram 1448 H, dengan tradisi unik yang telah menjadi ciri khas daerah tersebut. Tradisi ini melibatkan pembuatan dan penyajian tempe wedok, sejenis tempe yang diproses khusus untuk acara tasyakuran.
Tempe wedok, berbeda dengan tempe konvensional, dibuat dari kedelai yang difermentasi dalam keadaan masih hijau dan biasanya dibungkus daun pisang sebelum dipanggang. Proses pembuatannya melibatkan seluruh anggota keluarga, mulai dari pemilihan kedelai, perendaman, penggilingan, hingga pembungkusannya.
- Pemilihan bahan: Kedelai pilihan yang masih segar dipilih secara selektif.
- Perendaman: Kedelai direndam selama 12–14 jam hingga mengembang.
- Penggilingan dan pencampuran: Kedelai yang telah direndam digiling dan dicampur dengan ragi tempe.
- Pembungkusan: Campuran tersebut dibungkus rapat dengan daun pisang, kemudian dijepit.
- Fermentasi: Daun pisang dibungkus dipanaskan selama 24 jam pada suhu ruang, menghasilkan tempe berwarna kehijauan.
Setelah tempe wedok siap, warga kampung menggelarnya di atas bara api terbuka. Aroma khas yang tercium menarik warga sekitar untuk berkumpul, berbagi makanan, dan saling menyampaikan doa. Acara ini tidak hanya menjadi sarana mempererat kebersamaan, tetapi juga sebagai bentuk rasa syukur atas berkat Ramadan yang telah berlalu.
Penggelaran tempe wedok biasanya diikuti dengan pertunjukan seni tradisional, seperti gamelan dan tari‑tarian lokal, serta pembacaan doa bersama. Anak‑anak muda turut berpartisipasi dengan menyiapkan stan‑stan makanan ringan, menjadikan suasana semakin meriah.




