Semarang Jadi Pusat Dialog Nasional MBG, Walkot Tekankan Pentingnya Sinergi
Semarang Jadi Pusat Dialog Nasional MBG, Walkot Tekankan Pentingnya Sinergi

Semarang Jadi Pusat Dialog Nasional MBG, Walkot Tekankan Pentingnya Sinergi

Frankenstein45.Com – 29 April 2026 | Semarang resmi ditetapkan sebagai pusat pelaksanaan Dialog Nasional Musyawarah Besar Gizi (MBG) yang digelar pada akhir bulan ini. Penunjukan ini sekaligus menjadi titik fokus bagi pemerintah daerah, lembaga kesehatan, akademisi, serta organisasi kemasyarakatan untuk membahas strategi penanggulangan gizi buruk di Indonesia.

Walikota Semarang, Gibran Rakabuming Raka, dalam sambutannya menekankan pentingnya sinergi lintas sektor. Menurutnya, keberhasilan program pemenuhan gizi masyarakat tidak dapat dicapai hanya oleh satu pihak, melainkan memerlukan kolaborasi antara dinas kesehatan, pendidikan, pertanian, serta sektor swasta.

  • Meningkatkan koordinasi antara pusat dan daerah dalam perencanaan program gizi.
  • Memperkuat peran kader posyandu dan puskesmas dalam pemantauan status gizi.
  • Mendorong inovasi pangan lokal yang bernutrisi tinggi.
  • Menjalin kemitraan dengan perusahaan makanan untuk reformulasi produk.

Berbagai institusi telah mendaftar sebagai peserta dialog, antara lain:

No Instansi Peran
1 Kementerian Kesehatan Pengarah kebijakan nasional
2 Dinas Kesehatan Kota Semarang Implementasi program lokal
3 Universitas Diponegoro Penelitian dan data ilmiah
4 Yayasan Gizi Sehat Indonesia Advokasi dan edukasi masyarakat
5 Perwakilan Industri Pangan Pengembangan produk bernutrisi

Walikota juga mengajak seluruh elemen masyarakat untuk berpartisipasi aktif, baik melalui kegiatan penyuluhan, pemantauan gizi anak, maupun program pemberdayaan petani lokal. Ia menutup pidatonya dengan harapan Semarang dapat menjadi contoh sukses dalam mengintegrasikan upaya gizi, sehingga tercipta dampak positif yang dapat direplikasi di kota‑kota lain.

Dialog Nasional MBG di Semarang diharapkan menghasilkan rekomendasi konkret yang dapat diimplementasikan dalam jangka pendek maupun jangka menengah, demi menurunkan prevalensi gizi buruk dan meningkatkan kualitas hidup masyarakat Indonesia.