Terungkap, Motif Penusukan Nus Kei karena Pelaku Ingin Balas Dendam
Terungkap, Motif Penusukan Nus Kei karena Pelaku Ingin Balas Dendam

Terungkap, Motif Penusukan Nus Kei karena Pelaku Ingin Balas Dendam

Frankenstein45.Com – 20 April 2026 | Penusukan terhadap Ketua Dewan Perwakilan Daerah (DPD) Partai Golkar Maluku Tenggara, Agrapinus Rumatora yang lebih dikenal dengan sebutan Nus Kei, kini terungkap motifnya. Menurut hasil penyelidikan kepolisian, pelaku melakukan aksi tersebut sebagai bentuk balas dendam pribadi.

Insiden terjadi pada tanggal 13 Desember 2022 di kantor DPD Partai Golkar Maluku Tenggara ketika Nus Kei sedang mengadakan rapat internal. Secara tiba-tiba, seorang pria tak dikenal menyerang dengan pisau, menyebabkan korban terluka parah. Nus Kei dilarikan ke rumah sakit setempat dan dirawat intensif.

Polisi mengidentifikasi pelaku sebagai Budi Santoso, seorang warga setempat yang memiliki riwayat perseteruan dengan Nus Kei. Motif balas dendam diduga berawal dari keputusan politik yang diambil oleh Nus Kei yang dianggap merugikan kepentingan pribadi Budi, termasuk penolakan atas permohonan proyek pembangunan di desa asalnya. Dalam keterangan resmi, penyidik menyatakan bahwa pelaku mengaku merasa dirugikan secara finansial dan sosial oleh kebijakan yang dipimpin oleh Nus Kei.

Detail Penyidikan

  • Identitas pelaku: Budi Santoso, usia 42 tahun
  • Senjata yang digunakan: pisau belati berukuran 12 cm
  • Lokasi penusukan: ruang rapat DPD Partai Golkar Maluku Tenggara
  • Waktu kejadian: 14.30 WIB, 13 Desember 2022

Pihak kepolisian telah mengamankan barang bukti, termasuk pisau yang dipergunakan serta rekaman CCTV dari area sekitar. Pelaku ditahan dan akan menjalani proses hukum sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

Reaksi publik dan tokoh politik pun menggelora. Banyak yang menilai kejadian ini sebagai ancaman terhadap keamanan pejabat publik dan menuntut penegakan hukum yang tegas. Sementara itu, keluarga korban meminta agar proses penyelidikan berjalan transparan dan pelaku mendapat hukuman setimpal.

Kasus penusukan ini menambah daftar insiden kekerasan terhadap politisi di Indonesia, menyoroti pentingnya perlindungan keamanan bagi pejabat publik, terutama di wilayah yang rawan konflik.