Frankenstein45.Com – 20 April 2026 | Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP), Maruarar Sirait (Ara), menekankan perlunya terobosan dalam pembiayaan rumah susun (RUS) bersubsidi untuk mempercepat penyediaan hunian terjangkau bagi masyarakat berpenghasilan rendah. Pada acara peluncuran program baru yang diadakan di Jakarta, Ara menyampaikan bahwa pemerintah akan menggandeng lembaga keuangan, BUMN, dan pengembang swasta guna menciptakan skema kredit yang lebih fleksibel dan bersyarat.
Program ini menargetkan pembangunan sebanyak 500.000 unit RUS selama lima tahun ke depan, dengan alokasi dana sebesar Rp 150 triliun. Fokus utama adalah menurunkan suku bunga kredit, memperpanjang jangka waktu pembayaran, serta mengurangi persyaratan agunan bagi pemohon.
- Suku bunga rendah: Bunga kredit dibatasi maksimal 5,5% per tahun, lebih rendah dibandingkan kredit perumahan konvensional.
- Jangka waktu maksimal: Tenor hingga 30 tahun, memungkinkan cicilan yang lebih ringan.
- Persyaratan agunan: Hanya diperlukan jaminan rumah pribadi atau sertifikat tanah seluas 200 m².
Selain itu, pemerintah berencana mengimplementasikan mekanisme subsidi silang, di mana selisih antara harga jual subsidi dan harga pasar akan disalurkan kembali ke dana perumahan negara. Hal ini diharapkan dapat menambah likuiditas bagi bank yang menyediakan pembiayaan.
Dalam sambutannya, Ara menegaskan pentingnya sinergi antara kementerian, bank, dan pengembang. “Kita harus menciptakan ekosistem pembiayaan yang inklusif, sehingga keluarga miskin tidak lagi terhambat oleh biaya kredit yang tinggi,” ujarnya.
Para ahli menilai langkah ini dapat menurunkan angka rumah tidak layak huni yang masih mencapai 23% dari total rumah di Indonesia. Jika terwujud, terobosan pembiayaan ini akan menjadi model bagi daerah lain yang menghadapi tantangan serupa.




