Tragedi di Lebanon: Praka Farizal Rhomadhon, Prajurit TNI yang Tinggalkan Istri dan Anak Satu Tahun
Tragedi di Lebanon: Praka Farizal Rhomadhon, Prajurit TNI yang Tinggalkan Istri dan Anak Satu Tahun

Tragedi di Lebanon: Praka Farizal Rhomadhon, Prajurit TNI yang Tinggalkan Istri dan Anak Satu Tahun

Frankenstein45.Com – 01 April 2026 | Lebanon kembali menjadi saksi duka bagi TNI setelah tiga anggota Kontingen Garuda UNIFIL tewas dalam serangan artileri pada akhir pekan 29-30 Maret 2026. Di antara mereka, Praka Farizal Rhomadhon, prajurit berusia 28 tahun dari Kodam Iskandar Muda, Aceh, meninggalkan seorang istri dan anak balita berusia dua tahun. Kepergiannya menimbulkan rasa kehilangan mendalam di kalangan keluarga, rekan sejawat, dan masyarakat di Kulon Progo, tempat kelahirannya.

Profil Praka Farizal Rhomadhon

Praka Farizal Rhomadhon lahir pada 3 Januari 1998 di desa Ledok, Kecamatan Lendah, Kabupaten Kulon Progo, Yogyakarta. Ia menjejakkan langkah pertama di dunia militer setelah lulus dari Akademi Militer Magelang dan kemudian ditempatkan pada Batalyon Infanteri 113/Jaya Sakti, bagian Brigade Infanteri 25/Siwah, Kodam Iskandar Muda, Aceh. Dalam struktur batalyon, ia menjabat sebagai Taban Provost 1 di Kompi Markas, sebuah posisi yang menuntut disiplin tinggi dan integritas moral.

Pada April 2025, Farizal ditugaskan ke wilayah selatan Lebanon sebagai anggota Satgas Yonmek XXIII‑S/UNIFIL. Misi tersebut merupakan bagian dari upaya internasional untuk menstabilkan perbatasan Lebanon‑Israel yang terus bergolak. Selama hampir satu tahun, ia berpatroli di zona demiliterisasi, menjaga pos-pos penjagaan, serta berkoordinasi dengan pasukan perdamaian lain untuk mencegah eskalasi konflik.

Kehilangan yang Menyayat Hati Keluarga

Istri Farizal, Fafa Nur Azila, yang tinggal di Asrama Militer Yonif 113/Jaya Sakti, Bireuen, Aceh, kini harus menanggung beban duka sekaligus mengasuh anak laki‑lakinya yang baru berusia dua tahun. Supinah, ibu Farizal, mengungkapkan bahwa putranya sempat menjadwalkan kepulangan pada bulan Mei 2026, setelah menyelesaikan tugas selama satu tahun. “Akhir April selesai, terus Mei pulang. Sudah ada jadwal penerbangan, saya sudah dikirimin jadwalnya,” ujar Supinah di rumah duka keluarga di Ledok, Lendah.

Ayah Farizal, Senam, menambahkan bahwa percakapan terakhir mereka berlangsung singkat karena sinyal komunikasi yang buruk. “(Farizal) tidak menyampaikan apa‑apa. Katanya sinyalmu jelek ya, pak,” katanya dengan nada haru. Ia belum mengetahui pasti kapan jenazah almarhum akan tiba di tanah air, meski pihak militer memperkirakan kedatangan pada 1 April 2026.

Proses Pemulangan Jenazah

Letkol Inf. Dyan Niti Sukma, komandan Kodim 0731/Kulon Progo, menyatakan bahwa proses pemulangan jenazah masih berada pada tahap administrasi. “Kami terus berkoordinasi dengan Pusat Misi Pemeliharaan Perdamaian (PMPP) TNI untuk memastikan proses berjalan lancar,” ujarnya saat dikunjungi di rumah duka. Dyan menegaskan bahwa keluarga telah meminta jenazah dipulangkan ke kampung halaman, Ledok, Lendah, untuk dimakamkan secara adat setempat.

Rumah duka di desa Sidorejo, Kulon Progo, dipenuhi karangan bunga dari tokoh nasional dan daerah serta tetangga yang datang memberi penghormatan. Di Bireuen, Aceh, rumah duka di Asrama Yonif 113/Jaya Sakti juga dipadati kerabat dan sahabat yang datang melayat, menandakan besarnya rasa hormat terhadap pengorbanan Farizal.

Reaksi Nasional dan Internasional

Pemerintah Indonesia menyampaikan belasungkawa resmi melalui Kementerian Pertahanan, menegaskan komitmen untuk menuntut penyelidikan mendalam atas insiden artileri yang menewaskan tiga prajurit. “Kami berduka atas kehilangan tiga pahlawan bangsa. Investigasi harus dilakukan secara transparan dan akuntabel,” kata Menteri Pertahanan dalam konferensi pers.

Di tingkat internasional, PBB dan Komando Pasukan Perdamaian menegaskan kembali pentingnya perlindungan bagi personel UNIFIL di wilayah rawan konflik. Mereka menyatakan akan meningkatkan koordinasi intelijen untuk mencegah terulangnya insiden serupa.

Kepergian Praka Farizal Rhomadhon menegaskan kembali risiko tinggi yang dihadapi prajurit Indonesia dalam misi perdamaian. Keluarga, rekan, dan seluruh bangsa diharapkan terus mengingat jasa-jasanya, sambil menantikan keadilan bagi korban serta kepastian pemulangan jenazah yang layak.