UIN Palu dan Kemensos kolaborasi berdayakan mitra deradikalisasi
UIN Palu dan Kemensos kolaborasi berdayakan mitra deradikalisasi

UIN Palu dan Kemensos kolaborasi berdayakan mitra deradikalisasi

Frankenstein45.Com – 20 April 2026 | Universitas Islam Negeri (UIN) Datokarama Palu bersama Kementerian Sosial (Kemensos) resmi menandatangani nota kesepahaman (MoU) untuk memperkuat jaringan mitra dalam program deradikalisasi di provinsi Sulawesi Tengah.

MoU tersebut mencakup kerja sama dalam penyediaan pelatihan, penyuluhan, serta pemberdayaan ekonomi bagi individu dan kelompok yang berpotensi terpapar ideologi radikal. Kedua pihak menargetkan peningkatan kapasitas 30 lembaga mitra selama tiga tahun pertama.

Ruang Lingkup Kerja Sama

  • Penyusunan modul edukasi anti‑radikalisme berbasis nilai-nilai keagamaan dan budaya lokal.
  • Penyelenggaraan workshop dan seminar bagi tokoh masyarakat, aparat keamanan, serta kader keagamaan.
  • Pembinaan usaha mikro dan kecil (UMK) bagi keluarga mantan ekstremis guna mempercepat reintegrasi sosial.
  • Monitoring dan evaluasi bersama melalui tim gabungan UIN Palu‑Kemensos.

Dalam acara penandatanganan yang dilaksanakan di Gedung Rektorat UIN Palu, Rektor Prof. Dr. Abdul Halim menyampaikan bahwa kolaborasi ini merupakan langkah strategis dalam upaya mencegah penyebaran paham radikal di wilayah yang rawan konflik. Ia menekankan pentingnya peran akademisi dalam menghasilkan riset dan materi edukatif yang relevan.

Sementara itu, Direktur Direktorat Penanggulangan Kemiskinan dan Pengentasan Kemiskinan (DP2K) Kemensos, Rini Widyasari, menegaskan bahwa pemberdayaan ekonomi menjadi kunci utama dalam proses deradikalisasi. “Ketika keluarga mendapatkan penghasilan yang layak, risiko mereka terjerumus ke dalam jaringan radikal akan berkurang secara signifikan,” ujarnya.

Target dan Harapan

Program ini diharapkan dapat menjangkau lebih dari 1.200 individu melalui pelatihan keterampilan, serta menciptakan 500 lapangan kerja baru dalam dua tahun ke depan. Selain itu, UIN Palu berencana mengintegrasikan materi deradikalisasi ke dalam kurikulum fakultas sosial‑humaniora.

Dengan sinergi antara lembaga pendidikan tinggi dan pemerintah, kolaborasi ini diharapkan menjadi model replikatif bagi provinsi lain dalam upaya memerangi ekstremisme secara holistik.