8 Barang Pokok yang Harga Melonjak Tajam Akibat Konflik AS‑Israel vs Iran – Mengapa Harga Naik?
8 Barang Pokok yang Harga Melonjak Tajam Akibat Konflik AS‑Israel vs Iran – Mengapa Harga Naik?

8 Barang Pokok yang Harga Melonjak Tajam Akibat Konflik AS‑Israel vs Iran – Mengapa Harga Naik?

Frankenstein45.Com – 12 Mei 2026 | Konflik bersenjata yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran tidak hanya menimbulkan kerusakan fisik, tetapi juga menimbulkan guncangan ekonomi yang meluas ke seluruh dunia. Lonjakan harga minyak mentah yang menembus US$100 per barel, disertai ketegangan geopolitik, memicu inflasi global dan menekan daya beli masyarakat, termasuk di Indonesia. Dampak tersebut terasa jelas pada sekian barang pokok yang kini harganya melambung tinggi.

Para analis pasar, termasuk Direktur Treasury & International Banking Bank Mandiri, Ari Rizaldi, menegaskan bahwa gangguan pasokan energi memperparah volatilitas pasar keuangan, menunda penurunan suku bunga, serta melemahkan nilai tukar rupiah. Sementara itu, data inflasi di Iran menunjukkan kenaikan tajam pada bahan makanan, terutama minyak goreng, beras, dan daging ayam, dengan persentase melampaui tiga digit. Kombinasi faktor eksternal dan internal inilah yang menjadi pemicu utama lonjakan harga di berbagai sektor.

Daftar 8 Barang Pokok yang Harga Melonjak

No Barang Kenaikan Harga Penyebab Utama
1 Minyak Mentah Dunia Naik lebih dari US$100 per barel (kenaikan sekitar 30% dibanding bulan sebelumnya) Ketegangan AS‑Iran mempersempit pasokan, mengangkat harga minyak global
2 Minyak Goreng Cair +308% Harga minyak mentah tinggi menurunkan pasokan minyak nabati, inflasi pangan di Iran
3 Minyak Nabati Padat +375% Lonjakan harga minyak mentah dan gangguan logistik regional
4 Beras Impor +209% Kenaikan biaya transportasi dan nilai tukar yang melemah
5 Beras Lokal (Iran) +173% Ketergantungan pada impor bahan baku dan inflasi domestik
6 Daging Ayam +191% Biaya pakan ternak naik seiring harga komoditas energi
7 Rupiah (Nilai Tukar) Melemah 3,9% selama 2026 Tekanan eksternal dari harga energi dan aliran modal keluar
8 Bensin & Diesel (Indonesia) Perkiraan kenaikan 30‑40% sejak awal tahun Harga minyak mentah tinggi diteruskan ke bahan bakar domestik

Berbagai sektor lain turut merasakan dampak tekanan harga energi. Pada sektor keuangan, aliran modal asing keluar dari pasar saham Indonesia mencapai Rp 37,6 triliun, sedangkan pasar obligasi kehilangan sekitar Rp 13,3 triliun. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) turun hampir 20 % dan yield obligasi pemerintah naik 53 basis poin menjadi 6,6 %. Kondisi ini memperparah biaya pinjaman bagi perusahaan, yang pada gilirannya menambah beban pada harga barang konsumsi.

Di sisi lain, pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal I 2026 masih mencatat 5,61 %, sedikit lebih tinggi dari kuartal sebelumnya. Namun, tekanan eksternal yang berkelanjutan mengharuskan pemerintah dan pelaku usaha menyesuaikan strategi, termasuk memperkuat cadangan devisa, mengendalikan inflasi pangan, serta menstabilkan nilai tukar. Kebijakan subsidi tunai yang diberikan Iran kepada warganya—kurang dari US$10 per orang per bulan—menunjukkan betapa berat beban inflasi bagi rumah tangga.

Secara keseluruhan, konflik geopolitik antara AS‑Israel dan Iran menimbulkan efek domino yang meluas dari pasar energi global hingga ke meja makan rakyat. Kenaikan harga delapan barang pokok di atas mencerminkan dinamika kompleks antara geopolitik, kebijakan moneter, dan rantai pasok internasional. Pemerintah, pelaku bisnis, dan konsumen harus bersama‑sama memantau perkembangan situasi, mengoptimalkan kebijakan fiskal, serta mencari alternatif pasokan untuk mengurangi ketergantungan pada satu sumber energi atau komoditas.