Rupiah Anjlok, DPR Khawatir Harga Pangan Melonjak
Rupiah Anjlok, DPR Khawatir Harga Pangan Melonjak

Rupiah Anjlok, DPR Khawatir Harga Pangan Melonjak

Frankenstein45.Com – 16 Mei 2026 | Nilai tukar rupiah mengalami penurunan tajam hingga mencapai Rp 17.614 per dolar AS, memicu keprihatinan di kalangan anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR). Menurut laporan, penurunan nilai tukar ini berpotensi menambah tekanan inflasi, terutama pada komoditas pangan yang sensitif terhadap perubahan kurs.

Beberapa anggota DPR mengingatkan bahwa kenaikan harga pangan dapat memperburuk beban rumah tangga, khususnya keluarga berpenghasilan rendah. Mereka menyoroti tiga faktor utama yang dapat mempercepat lonjakan harga:

  • Biaya impor bahan pokok seperti beras, gula, dan minyak goreng yang naik seiring melemahnya rupiah.
  • Ketergantungan pada pasar internasional untuk input produksi pertanian.
  • Spekulasi pasar yang dapat memicu volatilitas harga dalam jangka pendek.

Pemerintah, melalui Kementerian Keuangan dan Bank Indonesia, telah merespons situasi dengan sejumlah langkah strategis untuk menstabilkan nilai tukar. Upaya tersebut meliputi:

Langkah Penjelasan
Intervensi pasar valuta asing Menjual cadangan devisa untuk menahan tekanan penurunan rupiah.
Kebijakan suku bunga Penyesuaian suku bunga acuan guna menarik arus modal masuk.
Koordinasi kebijakan fiskal Peningkatan efisiensi belanja pemerintah dan pengendalian defisit anggaran.

Meski demikian, beberapa pakar ekonomi menilai bahwa kebijakan moneter saja belum cukup. Mereka menekankan pentingnya reformasi struktural, seperti peningkatan produktivitas pertanian dan diversifikasi ekspor, untuk mengurangi ketergantungan pada impor.

DPR menuntut pemerintah untuk menyampaikan rencana aksi yang lebih detail, termasuk mekanisme perlindungan konsumen dan kebijakan subsidi yang terarah. Anggota DPR menambahkan bahwa transparansi data inflasi dan nilai tukar harus dijaga agar masyarakat dapat membuat keputusan ekonomi yang lebih bijak.

Dengan situasi yang terus berkembang, pemantauan terus-menerus terhadap nilai tukar dan harga pangan menjadi prioritas utama. Kestabilan ekonomi makro diharapkan dapat terjaga melalui sinergi antara kebijakan moneter, fiskal, serta dukungan legislatif yang proaktif.